Perjuangan Paul dan Istri, Bertahan Hidup di Tengah Himpitan Ekonomi
- Sabtu, 18-09-2021
PUKUL 05.30 WIB, Agnes (38) istri Paul Steve Adriano Harianja (39), sudah berangkat menuju Pasar Pusat, berjalan kaki menumpuh 2 Kilometer dari rumahnya di RT 19, Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat. Agnes kini menggantikan posisi suaminya mencari nafkah dengan berjualan risoles, sejak Paulmengalami patah kaki, jatuh dari ketinggian saat bekerja sebagai teknisi di salah satu TV kabel, satu setengah tahun lalu.
Sebanyak 150 buah risoles dibawa ibu dari enam orang anak itu ke pasar. Dijual kepada para pedagang sembako keliling, yang kerap mangkal di sekitar Pasar Pusat pagi hari. Harga satu risoles Rp 800. Di antaranya dititip di warung-warung dan mini market. Keuntungan yang didapat bila terjual secara keseluruhan, sekitar Rp 45.000. Namun di hari Jumat dan Minggu, keuntungan ditaksir hanya Rp 20.000 atau tidak ada sama sekali.
"Kalau Jumat para pedagang sembako keliling yang biasa membeli risoles tidak banyak membeli. Mereka memilih makanan lain karena Jumat hari pasar. Banyak pedagang lain yang menawarkan berbagai makananan. Dan kalau hari Minggu, pedagang sembako itu tidak beraktivitas. Jadi Jumat dan Minggu, kami bisa dikatakan tidak bisa beli beras," cerita Paul kepada Kominfo, Jumat (17/9).
Sedangkan untuk lauk, kata Paul, berasal dari sisa sayur yang tak terjual oleh pedagang sayur di pasar. Dipungut dua anaknya yang besar, di sore hari sambil menjemput bayaran risoles yang dititip di mini market. "Inilah yang dijadikan lauk kami sehari-hari. Kebetulan kami sekeluarga tidak suka daging. Kecuali daging ikan. Kalau sempat ada rezeki membeli ikan, itu bahagia kami sekeluarga luar biasa," ujar Paul.
Sejak tak bekerja, Paul menghadapi berbagai kesulitan ekonomi. Kondisi ini juga mempengaruhi pendidikan empat anaknya di salah satu sekolah swasta. Beruntung anak pertama dan kedua, Helen dan Samuel bisa melanjutkan sekolah di SMPN 2, berkat bantuan dan kemudahan yang diberikan kepala sekolah dan guru-guru di sana.
Walapun masih ada administrasi yang tertahan di sekolah swasta sebelumnya karena tunggakan, sekolah SMPN 2 memberikan berbagai kemudahan.
Tak seberuntung Helen dan Samuel, Nugi dan Putri, anak ketiga dan keempat sudah setahun tidak bersekolah di sekolah swasta itu. Tunggakan biaya sekolah tak sanggup lagi dibayarkan. Paul ingin memindahkan anaknya ke sekolah SD negeri namun pihak sekolah swasta belum mengeluarkan surat pindah untuk anaknya. "Total ada Rp 4,2 juta tunggakan di sekolah swasta itu," kata Paul.
Namun, di tengah kesulitan yang dihadapi, Paul melihat adanya kepedulian dan perhatian warga sekitar di tempat dia tinggal. Hingga akhirnya kondisi itu diketahui Pemko melalui kelurahan, Dinas Pendidikan, kepala sekolah dan guru-guru SMPN 2, Ketua DPRD, Mardiansyah, A.Md, Komunitas ABM Family, dan pihak lainnya.
Paul juga menceritakan saat dia terpaksa me-Whatsapp Wali Kota, H. Fadly Amran BBA, Datuak Paduko Malano, memohon bantuan atas biaya pengobatan kecelakaan bermotor anaknya yang akhirnya dibantu secara pribadi oleh Fadly bulan Juli lalu.
Hal yang juga membuat Paul haru, guru-guru SMPN 2 tempat anaknya bersekolah memberikan bantuan kulkas untuk bisa menyimpan risoles beku yang siap digoreng. Jadi, Helen dan Samuel tak perlu tiap hari begadang membantu ibunya membuat risoles.
"Keduanya sering tertidur di kelas karena letih membantu kami membuat risoles. Ketika ditanya guru, anak kami menceritakan keadaan sebenarnya. Guru-guru akhirnya berinisiatif membelikan kulkas agar bisa menyimpan bahan-bahan dan risoles beku," katanya.
Sementara itu, bantuan juga datang dari Komunitas ABM Family. Bantuan berupa sembako dan santunan uang tunai itu, diserahkan Ketua ABM Family, Junaidi dan Penasehat, Mardiansyah, A.Md. "Bantuan ini berasal dari donasi anggota ABM Family, sebagai wujud kepedulian kami terhadap Paul dan keluarganya," sebut pengurus ABM Family, Heri Z. Aciak.
Mardiansyah menyebutkan, apa yang dilakukan ABM Family ini patut ditiru komunitas dan kelompok masyarakat lainnya terhadap warga yang membutuhkan. Kepedulian sosial kepada tetangga, masyarakat sekitar dan warga kota harus ditumbuhkembangkan di Padang Panjang. "Saya selaku penasehat, merasa terharu dengan kegiatan ini. Makanya saya sokong penuh apa yang dilakukan kawan-kawan di ABM Family," ucapnya. (*)
