Ketika Majen dan Tuti Memulai Hidup di Bekas Kandang Sapi
- Sabtu, 13-02-2021
DEGA PADUWANA – KOMINFO
ANGIN yang sejuk, udara yang segar, sinar matahari yang tak terlalu hangat, memberi kenyamanan yang berbeda saat saya berkunjung ke Puncak Silaiang Indah. Paparan pemandangan yang menakjubkan dari atas ketinggian, membuat saya ingin berlama lama di sini.
Ini merupakan suasana yang baru bagi saya. Dengan semua keindahan yang saya dapatkan di sana. Ada sepasang suami istri yang berperan penting atas keindahan yang saya nikmati tersebut.
Jenny Marton (47) yang akrab dipanggil Majen dan istrinya, Sri Destuti (38). Mereka adalah orang yang selama ini mengelola tempat tersebut. Tidak banyak cerita yang saya dapat dari mereka pada saat kunjungan pertama itu. Tetapi dari pembicaraan yang singkat, membuat saya penasaran dan tertarik untuk bertemu dengan mereka kembali.
Selang beberapa hari, saya kembali mengunjungi mereka. Untuk memuaskan rasa penasaran saya akan tempat wisata tersebut.
Pagi yang sangat terang, saya memacu sepeda motor saya menuju kediaman mereka. Sesampai saya di sana, saya disambut dengan ceria oleh Majen dan Tuti. Saya diajak kembali berkeliling menikmati keindahan Puncak Silaiang Indah.
Suasana yang sama saat pertama kali saya berkunjung ke sini. Hanya saja, sekarang saya disuguhi secangkir kopi yang diracik Tuti. Tegukan kopi pertama, memulai cerita panjang saya dengan pasangan suami istri ini.
Dengan beberapa pertanyaan yang saya lontarkan terkait rasa penasaran saya, Majen dan Tuti menceritakan perjalanan hidup mereka yang membuahkan tempat wisata Puncak Silaing Indah ini.
Majen bekerja serabutan. Istrinya hanya seorang guru mengaji. Dia bercerita, setelah menikah dengan Tuti, mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal karena kendala finansial.
Pada tahun 2008, Majen dan Tuti membangun rumah yang dulunya bekas kandang sapi di komplek yang dahulunya bernama Perumnas I Silaiang Bawah yang sudah dibangun sejak tahun 80-an. Posisi rumahnya sangat tidak strategis. Karena di bagian paling ujung komplek tersebut. Di samping rumah, berpapasan dengan jurang. Di belakang rumah masih hutan.
Perlahan-lahan Majen mulai membersihkan dan membuka lahan hutan yang ada di belakang rumahnya itu. Karena selama dia tinggal di sini, sering sekali dirinya menemukan babi hutan maupun ular. Itu menjadi ketakutan bagi Majen dengan istrinya yang kala itu mereka mempunyai anak yang masih kecil.
Majen juga bercerita, mereka mempunyai anak-anak asuh yang asal-usulnya memang dari keluarga tidak mampu dan ada yang berasal dari luar kota Padang Panjang. Majen yang bekerja serabutan, tidak menghambatnya untuk menghidupi anak-anak tersebut.
Kesederhanaan hidup mereka, tidak menjadi penghambat untuk menghidupi empat anak kandung dan 16 anak asuh. Hingga sekarang masih ada 6 anak asuh yang tinggal bersamanya.
"Anak-anak asuh itu kita bimbing untuk serius belajar agama, yang insyaallah kedepannya bisa kita arahkan untuk menjadi garin, imam ataupun guru mengaji," ucap Majen.
Pada suatu ketika, Majen dan Tuti kadang merasa sedih. Ada beberapa anak asuhnya selapas tamat dibangku Sekolah Menegah Atas, anak- anak itu tidak bisa melanjutkan kuliah mereka, dan mereka pulang kampung untuk berladang membantu orang tua mereka. Dengan harapan di tahun berikutnya bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan kembali kepadanya.
Dengan keikhlasan dan selalu berserah diri kepada Allah, Majen dan Tuti sama sekali tidak mengeluh dengan kehidupannya. Bahkan hal ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Majen dan keluarga.
Dan sampai saat ini, dari 16 anak asuhnya, sudah ada yang berkeluarga. Sudah ada juga yang sudah mendapat gelar sarjana.
Tuti mengajar mengaji di Mushalla Ihsan yang ada di depan rumahnya. Mengajar anak-anak tanpa dipungut biaya. Tuti yang basic-nya pengajar, secara ikhlas mengajar ilmu keagamaan kepada anak-anak tersebut. Kurang lebih sudah 352 santri yang di ajarkan Tuti sejak awal dia mengajar disana. Dan di tahun ini masih ada 75 santri yang di didiknya.
“Syukur Alhamdulillah, apa yang kami lakukan selama ini. Kami percaya Allah akan membukakan jalan dan memberi balasan yang setimpal,”ucap Tuti.
Setelah mendengar cerita mereka, membuat saya kagum dengan kesabaran, keiklasan, dan usaha keras keluarga ini. (bersambung)
cerita selanjutnya:
