“Menjadi Anggota Paskibraka adalah Suatu Kebanggaan”
- Kamis, 19-08-2021
PERINGATAN HUT RI setiap tahun adalah momen yang ditunggu-tunggu. Semua lapisan, semua kalangan. Terlebih bagi anak-anak usia sekolah, khususnya setingkat SLTA. Mereka berkeinginan menjadi bagian dari pelaksana upacara dengan bergabung ke Tim Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).
Tidak mudah menjadi bagian dari Tim Paskibraka ini. Seleksinya ketat. Kalaupun lulus seleksi, latihan yang akan dijalani semi militer pula. Berat. Hal itulah yang membuat status sebagai anggota Paskibraka dan kemudian menjadi Purna Paskibraka semakin bergengsi.
Tahun 2021 di HUT RI ke-76 ini, setiap sekolah memiliki kesempatan mengutus 10 orang siswa-siswinya untuk menjadi Tim Paskibraka Kota Padang Panjang. Di sekolah mereka diseleksi, di tingkat kota mereka menjalani pelatihan dan kemudian diputuskan posisi yang akan ditempati. Ada pembawa baki bendera, pengerek bendera, tim pengiring dan sebagainya.
Komposisi Tim Paskibraka Padang Panjang, 65 orang. Mereka bertugas saat pengibaran bendera dan penurunan bendera di halaman Balaikota.
Enam orang dari 65 anggota Paskibraka tahun ini, yang berasal dari beberapa sekolah, terpilih sebagai tim penaikan dan tim penurunan bendera.
Dalam upacara penaikan bendera, terpilih Steven Nathanael S. (15), Rafki Ismail (16), Ryan Oktafriyansyah (17) yang semuanya berasal dari SMAN 2 Padang Panjang. Mereka menjadi pengibar, pembentang dan pengerek bendera.
Sementara dalam upacara penurunan bendera, terpilih Alif Khan Sailendra (18) dari SMA Muhammadiyah, Irfan (16) dari SMKN 2, Hottua Jhosua Pasaribu (16) dari SMAN 3. Mereka menjadi penurun, pembentang dan pengerek bendera.
“Menjadi anggota Paskibraka adalah suatu kebanggaan. Apalagi berperan sebagai pengerek bendera. Di dalamnya terdapat makna bagaimana perjuangan para pejuang mengibarkan bendera merah putih 76 tahun yang lalu,” kata Steven mewakili rekan-rekannya.
Motivasi awal mereka, sebagaimana diutarakannya ke Kominfo, adalah ingin membuat orang tua mereka bangga serta membuktikan jiwa nasionalisme mereka pada bangsa ini. Di sisi lain, mereka dituntut untuk mampu mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan segenap jiwa dan raga.
“Mengibarkan bukan hanya sekadar menaikkan ataupun menurunkan bendera pada hari H, tetapi memaknai betapa besarnya perjuangan dan pengorbanan bangsa ini demi satu kata, yaitu Merdeka,” ucap Steven berfilosofi.
Perjuangan mereka dari awal pelatihan, karantina dan akhirnya menjadi orang terpilih patut diberi apresiasi. Menjadi anggota yang diamanahkan sebagai anggota penaikan dan penurunan bendera merupakan suatu kehormatan. Mereka mewakili seluruh tim untuk memastikan berhasilnya bendera berkibar dan diturunkan. Kekhidmatan upacara diukur dari kesuksesan dalam penaikan dan penurunan bendera ini.
Ada rasa haru saat mendengar cerita mereka saat menjadi Tim Paskibraka. Mulai dari awal pemilihan, saat latihan dan dikarantina. Mereka sudah melalui seleksi yang sangat ketat. Pelatihan ala semi militer mereka ikuti kurang lebih tiga minggu bersama pelatih dari Kepolisian, Tentara Negara Indonesia (TNI), Brimob, dan Pol PP. Sehingga fisik dan mental mereka terlatih dengan baik.
“Menjadi anggota Paskibraka suatu kebanggaan bagi diri sendiri, serta kedua orang tua, bangga menjadi anak Indonesia dan mengharumkan nama negara. Banyak pelajaran yang didapat selama latihan dan karantina. Mulai dari kebersamaan layaknya keluarga, kekompakan tim dan persatuan demi suksesnya upacara,” sebutnya lagi.
Dituturkan Steven, menjadi tim Paskibraka itu tidak mudah. “Kita membawa nama besar Kota Padang Panjang. Disaksikan banyak orang, bahkan para pejabat seperti wali kota, dan undangan lainnya. Oleh karenanya kami semua bangga,” tutupnya. (*)
